Dalam sistem kolam koi, media filter bukan sekadar bahan untuk memenuhi ruang filter. Setiap media mempunyai fungsi yang berbeda. Ada media yang bertugas menangkap kotoran, ada yang membantu proses biologis, ada yang menyerap senyawa tertentu, dan ada pula yang berfungsi sebagai bagian dari proses treatment air.
Kesalahan yang sering terjadi adalah memasukkan berbagai macam media filter secara asal-asalan tanpa memahami fungsi masing-masing. Akibatnya, filter terlihat penuh, tetapi kualitas air belum tentu menjadi lebih baik.
Untuk memahami sistem filter dengan benar, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang ingin kita hilangkan dari air kolam dan proses apa yang harus terjadi di dalam filter.
1. Filter Mekanis: Menangkap Kotoran
Fungsi pertama dalam sistem filtrasi adalah filtrasi mekanis.
Kotoran seperti sisa makanan, kotoran ikan, daun, lendir, lumpur, dan berbagai partikel organik harus dipisahkan dari air sebelum air masuk ke bagian biologis.
Contoh media atau perangkat mekanis antara lain brush, japmat, filter mat, sponge, dakron, kapas filter, sieve, settlement chamber, RDF dan drum filter.
Prinsipnya sederhana, yaitu kotoran harus ditangkap dan kemudian dikeluarkan dari sistem.
Hal ini sangat penting karena kotoran organik yang dibiarkan terlalu lama di dalam filter akan mengalami pembusukan. Semakin banyak kotoran yang menumpuk, semakin besar pula beban pencemaran terhadap air kolam.
Brush
Brush atau sikat filter mempunyai permukaan yang dapat menangkap kotoran kasar.
Kelebihannya adalah relatif mudah dibersihkan dan dapat digunakan sebagai filter mekanis pada tahap awal.
Japmat
Japmat mempunyai struktur yang cukup terbuka sehingga dapat menangkap partikel sekaligus menyediakan permukaan bagi bakteri.
Karena itu, japmat sebenarnya dapat mempunyai fungsi mekanis sekaligus biologis, tergantung bagaimana media tersebut ditempatkan dan bagaimana sistem filter bekerja.
Dakron atau kapas filter
Dakron sangat efektif menangkap partikel halus sehingga air dapat terlihat lebih jernih.
Namun, dakron akan cepat kotor apabila digunakan untuk menangkap banyak kotoran. Karena itu, dakron harus dibersihkan atau diganti secara rutin.
Jangan menjadikan dakron sebagai satu-satunya sistem filtrasi karena ketika sudah penuh kotoran, aliran air dapat berkurang secara signifikan.
2. Media Biologis: Rumah Bagi Bakteri
Setelah kotoran kasar dipisahkan, kita masuk ke bagian yang sangat penting, yaitu filtrasi biologis.
Ikan koi menghasilkan limbah metabolisme. Salah satu senyawa yang sangat penting untuk diperhatikan adalah amonia.
Bakteri nitrifikasi membantu mengubah amonia menjadi nitrit dan kemudian nitrat.
Proses tersebut dikenal sebagai nitrifikasi.
Karena itu, media biologis harus menyediakan luas permukaan yang cukup untuk kolonisasi bakteri.
Contoh media biologis antara lain bioball, bio ring, moving bed media, Kaldnes atau K1, japmat, Matala, ceramic media, lava rock, batu apung dan berbagai media berpori lainnya.
Hal yang perlu dipahami adalah media biologis tidak bekerja seperti spons yang sekadar menyerap amonia.
Media biologis menyediakan tempat hidup bagi mikroorganisme. Bakteri yang hidup pada permukaan media tersebut kemudian membantu mengolah senyawa nitrogen yang berasal dari limbah ikan.
3. Bioball
Bioball merupakan media berbentuk berongga yang menyediakan permukaan bagi kolonisasi bakteri.
Keunggulannya antara lain ringan, tidak mudah mampat, memiliki banyak ruang untuk aliran air dan dapat digunakan dalam berbagai sistem filter.
Bioball cocok digunakan sebagai bagian dari filter biologis, terutama ketika kita ingin mempertahankan aliran air yang cukup baik.
Namun, jumlah bioball bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan filtrasi.
Yang lebih penting adalah luas permukaan efektif, aliran air, oksigen, jumlah ikan, jumlah limbah yang dihasilkan dan kestabilan sistem biologis.
4. Bio Ring dan Media Keramik
Media keramik umumnya mempunyai struktur berpori sehingga menyediakan area permukaan bagi bakteri.
Media seperti ini dapat digunakan sebagai media biologis.
Namun, tidak semua media keramik mempunyai performa yang sama. Kualitas bahan, porositas, bentuk, ukuran dan kemampuan air melewati media akan memengaruhi efektivitasnya.
Jangan hanya melihat klaim luas permukaan yang tercantum pada kemasan.
Dalam praktik kolam koi, media harus dilihat sebagai bagian dari keseluruhan sistem, bukan sebagai produk yang dapat bekerja sendiri tanpa dukungan sistem filtrasi yang baik.
5. Moving Bed Media
Moving bed merupakan sistem biologis yang menggunakan media ringan yang bergerak terus-menerus akibat aerasi.
Contohnya adalah media tipe K1 dan berbagai media moving bed lainnya.
Aerasi membuat media terus bergerak sehingga media mendapatkan suplai oksigen dan permukaannya tetap aktif.
Media juga tidak mudah menggumpal atau saling menempel secara permanen.
Moving bed sangat menarik untuk sistem kolam koi karena proses biologisnya dapat berlangsung secara dinamis.
Namun, moving bed membutuhkan aerasi yang memadai.
Tanpa oksigen yang cukup, aktivitas bakteri nitrifikasi akan menurun.
6. Lava Rock dan Batu Berpori
Lava rock atau batu berpori sering digunakan sebagai media biologis karena mempunyai permukaan kasar yang dapat ditempati bakteri.
Kelebihannya adalah relatif murah, mudah diperoleh dan mempunyai permukaan yang dapat menjadi tempat kolonisasi bakteri.
Namun ada kelemahannya.
Batu yang terlalu kecil atau disusun terlalu padat dapat menyebabkan aliran air terhambat dan kotoran menumpuk di antara media.
Filter juga menjadi lebih sulit dibersihkan.
Karena itu, penggunaan batu sebagai media filter harus mempertimbangkan ukuran batu, susunan media, arah aliran air dan kemudahan maintenance.
7. Zeolit: Media Adsorpsi
Zeolit sering digunakan dalam sistem filter kolam koi.
Namun fungsi zeolit berbeda dengan media biologis.
Zeolit mempunyai kemampuan adsorpsi terhadap ion tertentu, termasuk ammonium, sehingga dapat membantu mengurangi beban senyawa tersebut dalam kondisi tertentu.
Tetapi jangan menganggap zeolit sebagai pengganti biological filter.
Pada kolam koi yang sudah matang, sistem biologis tetap sangat penting untuk mengolah limbah nitrogen.
Zeolit juga mempunyai kapasitas adsorpsi yang terbatas. Setelah kapasitasnya tercapai, kemampuan adsorpsinya akan menurun.
Karena itu, penggunaan zeolit harus disertai pemahaman mengenai kapasitas media, kondisi air, beban ikan, pemeliharaan dan waktu penggantian atau regenerasi apabila jenis zeolit yang digunakan memungkinkan untuk diregenerasi.
8. Karbon Aktif
Karbon aktif mempunyai fungsi utama sebagai media adsorpsi berbagai senyawa organik dan zat terlarut tertentu.
Karbon aktif dapat membantu mengurangi warna air, bau tertentu dan sebagian senyawa organik.
Karbon aktif juga sering digunakan setelah penggunaan obat tertentu untuk membantu mengurangi residu obat dari air.
Namun karbon aktif bukan media utama untuk mengatasi amonia yang berasal dari limbah ikan.
Dalam sistem kolam koi, karbon aktif lebih tepat dianggap sebagai media tambahan yang digunakan sesuai kebutuhan.
9. Filter Tanaman
Tanaman air juga dapat digunakan sebagai bagian dari sistem filtrasi.
Contohnya adalah sirih gading, eceng gondok, kapu-kapu dan berbagai tanaman air atau tanaman rawa lainnya.
Tanaman menggunakan nutrien dari air untuk pertumbuhannya. Karena itu, tanaman dapat membantu mengambil sebagian nutrien seperti nitrogen dan fosfor dari sistem.
Namun tanaman juga harus dikelola dengan baik.
Jika tanaman tumbuh terlalu banyak, kemudian mati dan membusuk di dalam sistem, biomassa tersebut justru dapat menjadi sumber bahan organik baru.
Karena itu, tanaman yang sudah terlalu tua atau terlalu banyak harus dipangkas dan dikeluarkan dari sistem.
Prinsipnya adalah tanaman mengambil nutrien dari air, kemudian nutrien tersebut harus dikeluarkan dari sistem melalui pemangkasan atau pengambilan biomassa tanaman.
10. UV Bukan Media Filter
Hal ini juga sangat penting untuk dipahami.
Banyak orang menganggap UV sebagai media filter. Sebenarnya UV bukan media filter mekanis maupun biologis.
UV merupakan perangkat treatment yang menggunakan radiasi ultraviolet pada air yang melewati unit UV.
Pada kolam koi, UV terutama digunakan untuk membantu mengendalikan organisme mikroskopis tertentu di dalam air dan sangat populer untuk membantu mengatasi green water atau air hijau yang disebabkan oleh alga planktonik.
UV tidak berfungsi untuk menangkap kotoran ikan.
UV juga tidak menggantikan biological filter dan tidak dapat dianggap sebagai solusi untuk seluruh jenis penyakit ikan.
Jadi UV sebaiknya dipahami sebagai perangkat treatment air, bukan sebagai pengganti sistem filtrasi.
11. Aerasi Bukan Media, Tetapi Sangat Penting
Aerasi juga bukan media filter, tetapi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan sistem filtrasi biologis.
Bakteri nitrifikasi membutuhkan oksigen.
Ikan koi juga membutuhkan oksigen.
Karena itu, sistem filter biologis yang baik harus memperhatikan media biologis, aliran air, oksigen, bakteri dan waktu untuk membangun koloni bakteri.
Inilah sebabnya sistem moving bed biasanya menggunakan aerasi yang cukup kuat.
12. Susunan Media Harus Mengikuti Fungsi
Salah satu prinsip penting dalam membuat filter adalah jangan bertanya media apa yang paling bagus.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah media apa yang dibutuhkan pada bagian tersebut?
Sebagai contoh, sistem sederhana dapat disusun:
Kolam → Filter Mekanis → Filter Biologis → Treatment → Pompa → Kolam
Pada bagian mekanis, fokusnya adalah menangkap dan mengeluarkan kotoran.
Pada bagian biologis, fokusnya adalah menyediakan tempat bagi bakteri untuk melakukan proses nitrifikasi.
Pada bagian treatment, kita dapat menggunakan perangkat tertentu sesuai kebutuhan, misalnya UV.
13. Jangan Membuat Filter Menjadi Tempat Penampungan Kotoran
Ini merupakan salah satu kesalahan yang sering terjadi.
Media biologis dimasukkan dalam jumlah sangat banyak, tetapi tidak ada mekanisme yang baik untuk membuang kotoran.
Akibatnya, kotoran masuk ke ruang biologis dan menempel pada media.
Pada akhirnya filter berubah menjadi tempat penyimpanan kotoran, bukan sistem pengolahan air.
Karena itu, filter mekanis yang baik harus mampu menangkap kotoran dan memungkinkan kotoran tersebut dikeluarkan dari sistem sebelum masuk terlalu jauh ke ruang biologis.
14. Setiap Media Mempunyai Pekerjaan
Agar lebih mudah dipahami, kita dapat membayangkan media filter seperti sebuah tim kerja.
Brush, sieve, settlement chamber dan drum filter bertugas menangkap serta memisahkan kotoran.
Dakron dan sponge membantu menyaring partikel yang lebih halus.
Japmat dan Matala dapat mempunyai fungsi mekanis sekaligus menjadi tempat kolonisasi bakteri.
Bioball, Bio Ring dan K1 menyediakan permukaan untuk kolonisasi bakteri.
Lava rock dan batu berpori menyediakan permukaan bagi bakteri.
Zeolit membantu proses adsorpsi ammonium dalam kondisi tertentu.
Karbon aktif membantu adsorpsi berbagai senyawa organik tertentu.
Tanaman air membantu mengambil sebagian nutrien dari air.
UV melakukan treatment menggunakan radiasi ultraviolet.
Aerator memasok oksigen yang dibutuhkan ikan dan proses biologis.
15. Kesimpulan
Memahami media filter berarti memahami fungsi masing-masing media, bukan sekadar mengenal namanya.
Kolam koi yang sehat tidak ditentukan oleh seberapa banyak media filter yang kita masukkan.
Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengatur proses dari awal sampai akhir.
Kotoran harus dipisahkan melalui filtrasi mekanis.
Limbah nitrogen harus diproses melalui filtrasi biologis.
Bakteri membutuhkan oksigen dan lingkungan yang stabil.
Media adsorpsi seperti zeolit atau karbon aktif digunakan sesuai kebutuhan.
Tanaman dapat membantu mengambil nutrien.
UV dapat digunakan sebagai perangkat treatment tambahan.
Dan yang tidak kalah penting, kotoran yang sudah ditangkap harus benar-benar dikeluarkan dari sistem.
Jadi, prinsip dasar sistem filter kolam koi adalah:
Tangkap kotorannya, proses limbahnya, jaga oksigennya, dan keluarkan kotoran dari sistem.
Filter yang baik bukanlah filter yang mempunyai media paling banyak, tetapi filter yang mampu menjaga kualitas air secara stabil, bekerja sesuai fungsi masing-masing media, mempunyai aliran air yang baik, dan mudah dirawat.
Dengan memahami fungsi setiap media, kita tidak lagi memilih media filter hanya berdasarkan merek atau harga, tetapi berdasarkan kebutuhan biologis dan mekanis dari kolam koi yang kita bangun.


